Saptono, jurnalis foto yang menantang maut

10 Aug

“Wartawan foto itu harus berani, namun jangan konyol! Kewaspadaan juga sangat penting,”

SAPTONO Redaktur AntaraFoto. Wartawan Foto harus sigap untuk memotret setiap momen. foto/ Sari Kartijsoeparto

Jakarta, 10/9 (ClickFotografi)- Wartawan foto, itulah profesi pilihan seorang Saptono, Redaktur AntaraFoto. Belasan tahun berkecimpung dalam dunia jurnalisme fotografi, membuatnya banyak menenggak asam-garam jurnalistik.

Salah satunya adalah ketika beliau meliput kerusuhan di Jakarta yang terjadi 13 tahun yang lalu. Tepatnya adalah pada peristiwa mei 1998, Saptono ikut menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan yang bertugas saat itu.

Pada saat itu Saptono yang seringkali meliput demonstrasi, menyadari bahwa keadaan sudah tidak dapat dikendalikan dan akhirnya kerusuhan pun terjadi. Sebagai seorang wartawan foto, dengan sigap Saptono memotret setiap momen bagus yang dapat dijadikan ‘spot news’.

Saat sedang asik mengabadikan gambar, Saptono sempat hampir diserang oleh seorang aparat keamanan. Saptono yang lalu mengaku sebagai utusan Markas Besar Tentara Indonesia (Mabes TNI), berhasil membuat aparat tersebut mengurungkan niatnya untuk menyerang.

“Si aparat kaget, ga jadi mukul deh dia. Eh, ternyata dari belakang saya malah diserang,” ungkap Saptono mengenang peristiwa tersebut.

Sebuah senjata laras panjang yang berguna unuk menembakkan gas  air mata menghantam leher bagian belakangnya. Jatuh tersungkur, Saptono pun di serang bertubi-tubi oleh aparat-aparat keamanan tersebut.

“Bila terjadi ‘chaos’ diusahakan, apapun yang terjadi jangan sampai terjatuh. Begitu terjatuh, sudah deh.. Kamu menjadi tidak bertuan,” Saptono memberikan saran.

Meskipun pernah mengalami persitiwa yang hampir merenggut nyawanya itu, Saptono tidak merasa kapok. Saptono bahkan mengaku bahwa dia malah menyukai kegiatan yang memicu adrenalinnya, seperti meliput di daerah konflik atau kerusuhan.

“Aku suka sesuatu yang memicu adrenalin. Jadi tidak masalah, justru itu menjadi pengalaman yang membuat saya lebih matang di lapangan, dulu saya memang kurang waspada karena terlalu yakin pada diri saya sendiri,” ungkap Saptono.

Saptono pun memberi pesan untuk para wartawan foto, yang masih baru, “Seorang wartawan foto itu harus berani, namun jangan konyol! Kewaspadaan juga penting.” (Sari Kartijsoeparto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: